Minggu, 04 Juli 2010

Amtsal Alquran

Suatu hakikat yang tinggi makna dan tujuannya menjadi lebih menarik jika dituangkan dalam kerangka ucapan yang baik dan mendekatkan kepada pemahaman, melalui analogin dengan sesuatu yang telah diketahui secara yakin. Tamsil (perumpamaan) merupakan kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup dan mantap di dalam pikiran, dengan cara menyerupakan sesuatu yang ghaib dengan yang hadir, yang abstrak dengan yang kongkrit, dan dengan menganalogikan sesuatu dengan hal yang serupa. Melalui tamsil betapa banyak makna yang baik menjadi lebih indah, menarik dan mempesona. Karena itu tamsil dapat lebih mendorong jiwa untuk menerima makna yang dimaksudkan dan membuat akal merasa puas dengannya. Dan tamsil adalah salah satu gaya Al-Quran dalam mengungkapkan berbagai penjelasan dan segi-segi kemukjizatan.

Bahasa atau kalimat-kalimat alquran menkjubkan, berbeda sekali dengan kalimat-kalimat bukan Alquran. Ia mampu mengeluarkan sesuatu yang abstrak kepada fenomena yang kongkrit, sehingga dapat dirasakan ruh dinamikanya. Adapun huruf tidak lain hanyalah simbol makna-makna, sementara lafazh memiliki petunjuk-petunjuk etimologis yang berkaitan dengan makna-makna tersebut. Menuangkan makna-makna yang abstrak tersebut kepada batin dan kepada hal-hal yang bisa dirasakan (al mahsusat), yang bergerak di dalam imajinasi dan perasaan, bukan hal yang mudah dilakukan.

Keindahan uslub Alquran mengagumkan orang-orang Arab dan bukan Arab. Kehalusan bahasa, keindahan dalam ekpresi, ciri-ciri khas balaghah dan fashahahnya, baik yang abstrak maupun yang kongkrit, dapat mengungkapkan rahasia keindahan dan kekudusan Alquran. Orang-orang kafir tidak mampu membuat yang serupa dengan Alquran dan mereka kebingungan karenanya. Jago-jago Arab juga bungkam seribu bahasa berhadapan dengan Alquran.

A. Pengertian Amtsal

Secara etimologi kata amtsal adalah bentuk jamak dari kata matsal dan mitsil yang berarti misal, perumpamaan, sesuatu yang menyerupai dan bandingan. Dalam kamus bahasa Indonesia amtsal adalah umpama atau perumpamaan.[1]

Sedangkan secara terminologis, matsal adalah suatu ungkapan perkataan yang dihikayatkan dan sudah populer dengan maksud menyerupakan keadaan yang terdapat dalam perkataan itu dengan keadaan sesuatu yang karenanya perkataan itu di ucapkan. Maksudnya, menyerupakan sesuatu (seseorang keadaan) dengan apa yang terkandung dalam perkataan itu. Matsal selalu mempunyai sumber yang kepadanya sesuatu yang lain diserupakan.

Sayyid Qutb menyatakan bahwa amtsal dalam Alquran merupakan sarana untuk menggambarkan kondisi bangsa-bangsa pada masa lampau dan untuk menggambarkan akhlaknya yang sudah sirna. Penyair Zuhair dan Nabighah adz-Dzibyani, seperti di kutip akhmad Hasyimi, menyatakan bahwa amtsal biasanya digunakan untuk sesuatu keadaan dan sesuatu kisah yang hebat. Matsal menonjolkan suatu makna yang abstrak ke dalam bentuk yang indrawi agar menjadi indah dan menarik.

Amtsal dalam Alquran banyak di bahas para ulama terdahulu dalam suatu kitab tersendiri, seperti Al Amtsal fi Al Qur’an karangan Mahmud Ibnu Syarif, Amtsal Al Qur’an karangan Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan Amtsal Al-Qur’an karangan Abdurrahman Hasan Al Madani. Ia juga menjadi suatu bab dalam kitab-kitab Ulumul Quran seperti karangan As Suyuti, Al Zarkasyi dan Manna’ Al Qaththan.

Ibnu Qayyim, seperti dikutip Manan’ Al Qaththan, mendefinisikan amtsal Al Qur’an sebagai menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hal hukumnya dan mendekatkan sesuatu yang abstrak (ma’qul) dengan indrawi (kongkrit).

Di dalam Al-quran sendiri, kata matsal dipergunakan dalam beberapa pengertian, diantaranya :

1. Matsal diartikan dengan “perkataan atau informasi mengenai dirinya sendiri”.

2. Matsal berarti “contoh atau tauladan”

3. Matsal berarti “penerangan”

4. Matsal berarti “tanda atau bukti”.[2]

5. Matsal berarti “keadaan, kisah dan sifat yang menarik perhatian serta menakjubkan”

6. matsal berarti “perbandingan”.

B. Macam-Macam Amtsal dalam Al-Qur’an

Amtsal di dalam Al Qur’an ada tiga macam yakni amtsal musarrahah, amtsal kaminah dan amtsal mursalah.

1. Amtsal Musarrahah

Ialah amtsal yang di dalamnya dijelaskan dengan lafazh matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasbih. Amtsal demikian ini banyak ditemukan dalam Al Qur’an, seperti firman Allah:

* z>uŽŸÑ ª!$# ¸xsVtB #Yö6tã %Z.qè=ôJ¨B žw âÏø)tƒ 4n?tã &äóÓx« `tBur çm»oYø%y§ $¨ZÏB $»%øÍ $YZ|¡ym uqßgsù ß,ÏÿZムçm÷YÏB #uŽÅ #·ôgy_ur ( ö@yd šc¼âqtGó¡o 4 ßôJptø:$# ¬! 4 ö@t/ öNèdçŽsYò2r& Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÐÎÈ

75. Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang kami beri rezki yang baik dari kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, Adakah mereka itu sama? segala puji Hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui[*]. (QS. An-Nahl : 75)

[*] maksud dari perumpamaan Ini ialah untuk membantah orang-orang musyrikin yang menyamakan Tuhan yang memberi rezki dengan berhala-berhala yang tidak berdaya.

2. Amtsal Kaminah

Ialah amtsal yang didalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafaz tamtsil (pemisalan) tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik dalam kepadatan redaksinya dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindahkan kepada yang serupa dengannya.

Berikut ini firman-firman Allah SWT. Tentang berbagai hal yang berhubungan dengan amtsal kaminah:

Firman-Nya tentang nafkah,

tûïÏ%©!$#ur !#sŒÎ) (#qà)xÿRr& öNs9 (#qèùÌó¡ç öNs9ur (#rçŽäIø)tƒ tb%Ÿ2ur šú÷üt/ šÏ9ºsŒ $YB#uqs% ÇÏÐÈ

67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. Al Furqaan: 67)

3. Amtsal Mursalah

Ialah kalimat-kalimat Al-quran yang disebut secara lepas tanpa ditegaskan redaksi penyerupaan, tetapi dapat digunakan untuk penyerupaan.[3] contohnya berikut ini.

4 Ÿwur ß,Ïts ãõ3yJø9$# à×Äh¡¡9$# žwÎ) ¾Ï&Î#÷dr'Î/

“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS. Fathir : 43).

C. Ciri-Ciri Amtsal

Pembahasan mengenai amtsal secara khusus dan terperinci belum ditemukan dalam kitab-kitab Ulumul Qur’an. Namun dari keterangan yang ada, pemakalah dapat rumuskan sebagai berikut:

  1. amtsal itu mengandung penjelasan atas makna yang samar atau abstrak, sehingga menjadi jelas, kongkrit dan berkesan.
  2. Amtsal itu memiliki kesejajaran antara situasi perumpamaan yang dimaksudkan dengan padanannya.
  3. ada keseimbangan (tawazun) antara perumpamaan dan keadaan yang dianalogikan.

D. Faedah-Faedah Amtsal

1. Untuk menimbulkan minat dalam beribadah.

2. Untuk membuat seseorang lari dari perumpamaan yang disebut dalam ayat karena perumpamaan tersebut termasuk yang dibenci oleh tabiat.

3. Untuk memuji sesuatu.

4. untuk mencela.

5. Untuk menjadi Hujjah (argumen) atas kebenaran.[4]

6. menampilkan yang rasional dalam bentuk konkrit yang dapat dirasakan indra manusia, sehingga akal mudah menerimanya.[5]

7. menghimpun makna yang menarik dan indah dalam satu unkapan yang padat.

E. Tujuan Amtsal

Sebenarnya tak seorang pun yang tahu secara pasti apa sebenarnya yang menjadi tujuan diungkapkan uslub amtsal oleh Allah dalam Al-quran. Namun bila diperhatikan secara cermat amtsal yang dibawa oleh ayat-ayat Al-quran itu maka kita dapat berkata bahwa tujuan amtsal tersebut ialah agar umat manusia mengambil pelajaran darinya. Artinya, contoh yang baik untuk dijadikan tel;adan, sebaliknya perumpamaan yang jelek agar dapat berusaha menghindarinya. Dalam kaitan ini Allah berfirman:

ôs)s9ur $oYö/uŽŸÑ Ĩ$¨Y=Ï9 Îû #x»yd Èb#uäöà)ø9$# `ÏB Èe@ä. 9@sWtB öNßg¯=yè©9 tbrã©.xtGtƒ ÇËÐÈ

“Sesungguhnya Telah kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran Ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. (QS. Az-Zumar: 27).

4 šù=Ï?ur ã@»sVøBF{$# $pkæ5ÎŽôØtR Ĩ$¨Z=Ï9 óOßg¯=yès9 šcrã©3xÿtGtƒ ÇËÊÈ

“Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (QS. Al-Hasyr: 21).

F. Urgensi Amtsal Al Qur’an

Amtsal memberikan kontribusi yang cukup besar dalam daya pikir bagi umat Islam dalam mendalami pemahaman terhadap Al Qur’an.[6] Untuk mengetahui betapa besar urgensi amtsal Al Qur’an, maka perlu pemakalah utarakan beberapa faedah amtsal. Manna’ Al Qaththan mengemukakan dalam kitabnya Mabahits fi Ulumil Qur’an sebagai berikut:

1. menonjolkan suatu yang ma’qul (yang hanya bisa dijangkau akal, abstrak) dalam bentuk yang kongkrit yang dapat dirasakan indra manusia, sehingga akal dapat menerimanya, sebab pengertian abstrak tidak akan tertanam dalam benak kecuali jika ia dituangkan dalam bentuk idrawi yang dekat dengan pemahaman. Misalnya firman Allah mengenai keadaan orang yang menafkahkan harta dengan riya’ ia tidak akan mendapatkan pahala sedikitpun dari perbuatannya itu.

2. menyingkapkan hakikat-hakikat dan mengemukakan sesuatu yang tidak tampak seakan-akan sesuatu itu tampak


Kesimpulan

Al-quran sebagaimana diketahui ialah kitab hidayah yang selalu memberikan bimbingan yang dinamis dan segar kepada umat; dan dengan adanya amtsal dalam kitab suci tersebut, maka terasa sekali sangat pentingnya kajian ini sehingga umat yang diserunya dapat memahami makna-makna yang dikandungnya dengan cara yang tidak terlalu sukar dan sekaligus dapat membuat mereka tertarik serta tidak membosankan.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon, Ilmu Tafsir, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000. Cet. I.

al-Qathan, Manna, Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an, Pustaka al-Kautsar, Jatim, 2006.

Ash-Shiddieqy, Hasbi, Ilmu-Ilmu Al-quran (Media Pokok Dalam Menafsirkan Al-quran), Jakarta: Bulan Bintang, 1972. cet. I

Baidan, Nasruddin, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005. Cet. I.

Ash-Shiddieqy, Hasbi, Ilmu-Ilmu Al-quran (Media Pokok Dalam Menafsirkan Al-quran), Jakarta: Bulan Bintang, 1972. cet. I

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pustaka, 1995.


[1] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pustaka, 1995. h. 35.

[2] Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-quran (Media Pokok Dalam Menafsirkan Al-quran), Jakarta: Bulan Bintang, 1972. cet. I h. 174.

[3] Rosihon Anwar, Ilmu Tafsir, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000. Cet. I. h. 105.

[4] Nasruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005. Cet. I. h. 254-258

[5] Manna al-Qathan, Pengantar Studi Ilmu al-Qur’an, Pustaka al-Kautsar, Jatim, 2006. h. 361

[6] Nasruddin Baidan, Op. Cit., h. 259.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar