Minggu, 04 Juli 2010

Proposal Etos Kerja Menurut Alquran

A. Latar Belakang Masalah
Amalan di dunia ini bukan semata-mata untuk kepentingan manusia secara individual saja, tetapi untuk kemaslahatan seluruh manusia dan ketertiban kehidupan manusia. Tidaklah pantas bagi manusia hidup di dunia ini sekedar untuk mengambil dan tidak pernah memberi sesuatu hasil dari jerih payahnya. Kerja dan pekerjaan merupakan suatu aspek kehidupan manusia guna mewujudkan kemakmuran hidupnya. Manusia adalah makhluk kerja yang ada persamaannya dengan gayanya sendiri.
Seorang muslim dituntut bekerja untuk penghidupannya, sebagaimana dituntut bekerja untuk akhiratnya. Manusia muslim memohon kepada Tuhannya untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. Amal perbuatan muslim untuk penghidupannya di dunia pada satu sisi bersifat kebutuhan duniawi, sedangkan pada sisi lain merupakan ibadah diniyah.
Diungkapkan oleh Hamzah Ya'kub bahwa ada anggapan yang mengatakan kaum muslimin di masa kini tidak mengalami kemajuan karena imannya baru pernyataan belum menjadi kenyataan. Beriman sudah tetapi belum beramal saleh, yaitu bekerja secara optimal yang mengandung nilai kebajikan bagi umat manusia.
Dengan ungkapan lain, sekarang ini umat Isalam belum menduduki martabatnya yang terhormat sebagai umat pekerja yang paling dinamis dan produktif, karena esensi Islam tentang nilai kerja belum mereka kantongi, belum masuk ke dalam syaraf dan hati nurani mereka, antara Islam dan Umat Islam masih terdapat jurang pemisah. Nilai Islam termasuk masalah kerja dan amal saleh belum menyatu ke darah daging umat sehingga yang nampak dalam potret umat adalah kemunduran, pengangguran, kemiskinan dan keterbelakangan.
Islam mendorong pemeluknya untuk berproduksi dan menekuni aktivitas ekonomi dalam segala bentuk, seperti peggembalaan, berburu, peternakan, pertanian, perdagangan atau bekerja dalam berbagai bidang keahlian.
Bekerja adalah fitrah dan sekaligus merupakan salah satu identitas manusia, sehingga bekerja yang didasarkan prinsip-prinsip iman tauhid, bukan saja menunjukkan fitrah seorang muslim, tetapi sekaligus meninggikan martabatnya sebagai Abdullah (hamba Allah) yang mengelola seluruh alam sebagai bentuk dari cara dirinya mensyukuri kenikmatan dari Allah Rabbul 'alamin. Di antara manusia ada yang enggan bekerja dan berusaha dengan alasan bertawakal dan pasrah kepada allah SWT. Menunggu rezeki dari langit. Mereka salah memahami ajaran Islam, pasrah kepada Allah tidak berarti meninggalkan amal dan usaha yang merupakan sarana untuk memperoleh rezeki.
Tuntunan semangat bagi muslim agar bekerja untuk meraih rezeki dari Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya:
               
Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al-Jumu'ah: 10).
Setiap muslim dapat melihat bagaimana Allah menjelsakan format ibadah pada-Nya. Selain dituntut untuk shalat kemudian berusaha mencari nafkah. Tidak berpangku tangan dan bermalasan menunggu datangnya rezeki, seumpama dengan meminta sedekah.
Al-Ghazali mengutip pesan Luqman Al-Hakim kepada puteranya: wahai anakku cukupi kebutuhanmu dengan bekerja keras agar tidak menjadi faqir. Sebab apabila orang itu menjadi faqir, dia akan tertimpa tiga hal yang negatif, yaitu: agamanya lemah, nalarnya lemah dan harga dirinya jatuh, Al-Ghazali menambahkan, bahwa orang faqir itu dapat lebih parah penderitannya dari tiga hal tersebut, dimana ia selalu diremehkan orang lain. Khalifah Umar bin Khattab r.a. pernah berpesan kepada orang-orang yang malas bekerja: kalian jangan hanya diam saja tidak mau mencari rezeki, hanya suka berdoa: wahai Allah berilah saya rezeki. Kalian harus menyadari, bahwa emas dan perak itu tidak dengan sendirinya turun dari langit.

Selanjutnya motto Islam yang diucapkan Nabi Saw. Dalam sejumlah hadis, sangat menghargai waktu dan semangat berprestasi atas dasar keringatnya sendiri. Tiada seorangpun yang makan makanan yang diperoleh dari hasil keringatnya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud As. Itu makan dari hasil karyanya. (HR. Bukhari Muslim).
Dengan demikian sangat besar tuntutan untuk bekerja, tidak ada alasan lagi bahwa kaum muslimin berada dalam kemunduran, pengangguran, kemiskinan dan keterbelakangan. Terlihatnya realita kehidupan umat seperti kemunduran, pengangguran, kemiskinan dan keterbelakangan ternyata melahirkan sinyalemen bahwa keadaan umat yang demikian dikarenakan umat muslim tersebut menderita kelemahan etos kerja.
Masalah etos kerja menjadi salah satu bahan pembicaran yang ramai di masyarakat. Pembicaraan itu tidak jarang dalam suasana khawatir bahwa jika sebagai bangsa atau umat muslim tidak dapat menumbuhkan etos kerja yang baik, maka kemungkinan besar umat Islam akan tetinggal oleh umat non-Muslim yang telah maju dan makmur.
Dengan demikian perlu adanya kesadaran yang mendalam dalam pribadi muslim untuk menumbuhkan semangat bekerja. Seperti yang dijelaskan oleh Toto Tasmara bahwa bekerja akan melahirkan inprovents untuk meraih nilai yang lebih bermakna, ia mampu menuangkan ide dalam bentuk perencanaan, tindakan serta melahirkan penilaaian dan analisa tentang sebab dan akibat dari aktivitas yang dilakukannya.

Dengan cara pandang seperti ini, sadarlah bahwa setiap muslim tidaklah akan bekerja hanya sekedar bekerja, asal mendapat gaji, dapat surat pengangkatan atau sekedar menjaga gengsi supaya tidak disebut sebagai pengangguran karena kesadaran bekerja secara produktif serta dilandasi semangat tauhid dan tanggungjawab uluhiyah merupakan salah satu ciri khas karakkter pribadi muslim.
Sebuah kehidupan di dunia ini tidak akan mencapai kesempurnaan tanpa adanya etos kerja pribadi muslim, yang sangat penting dalam kehidupan, pembentukan kepribadian, namun salah satu daripada iman, taqwa, ilmu, ibadah, aqidah, akhlak, dan aspek lainnya tanpa etos kerja pengalaman aspek-aspek yang lainnya tidak dapat berjalan sepenuhnya.
Berkenaan dengan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengangkat etos kerja sebagai topik penelitian dan berkeinginan mengadakan penelitian yang lebih mendalam dalam bentuk studi literature secara spesifik dengan judul: ETOS KERJA MENURUT AL-QURAN.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Etos kerja menurut Alquran?
Hal ini akan dibagi menjadi beberapa sub bab:
1. Bagaimana makna kerja menurut Alquran?
2. Bagaimana ciri-ciri etos kerja menurut Alquran?
3. Apa saja hal-hal yang dilakukan dalam memperoleh etos kerja menurut Alquran?
4. Apa saja masalah-masalah yang menghambat etos kerja menurut Alquran?
C. Definisi Operasional
Untuk memperjelas dan menghindari kesalahpahaman dalam penelitian ini, maka penulis kemukakan batasan istilah sebagai berikut:
Etos adalah watak atau karakter yang dimiliki oleh setiap makhluk ciptaan Tuhan.
Kerja adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi atau non materi, intelektual, fisik maupun hal-hal yang berkaitan masalah keduniaan atau keakhiratan.
Jadi yang dimaksud dengan etos kerja menurut Alquran pada judul di atas adalah dorongan jiwa yang merupakan karakteristik pribadi yang muncul untuk memotivasi kegiatan kerja itu yang rasionalistis dengan mengacu kepada nilai-nilai agama Islam.
D. Tujuan dan Signifikansi Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui makna kerja menurut Alquran.
b. Mengetahui ciri-ciri etos kerja menurut Alquran?
c. Mengetahui hal-hal yang dilakukan dalam memperoleh etos kerja menurut Alquran?
d. Mengetahui masalah-masalah yang menghambat etos kerja menurut Alquran?
2. Signifikansi Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai:
a. Sebagai bahan informasi kepada masyarakat muslimin bahwa banyak sekali kandungan Alquran dan hadis yang berisikan perintah kepada umat Islam untuk bekerja mencari nafkah, baik secara tersurat, maupun tersirat.
b. Memberi motivasi dan rangsangan yang kuat kepada orang yang suka bekerja dengan baik, bukan hanya kentungan dunia tetapi juga pahala ukhrawi.
c. Dengan mempelajari etos kerja menurut alquran setiap kaum muslimin dapat mengambil hikmahnya yakni untuk memperoleh rezeki dari Allah swt tidak hanya dengan berdoa meminta kepada-Nya, tetapi juga di harus ikuti dengan usaha dan semangat dalam bekerja.
d. Dengan adanya gambaran etos kerja dalam berbagai penafsiran yang dilakukan oleh kaum mufassir, seharusnya umat muslim dapat meningkatkan taraf kehidupannya yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan etos kerja orang-orang kafir.
D. Tinjauan Pustaka
Sejauh pengamatan yang penulis lakukan, penulis menemukan beberapa pengkaji yang telah melakukan kajian dan penelitian tentang etos kerja. Diantaranya, oleh Dr. Hamzah Ya'qub pada tahun 1990, dengan judul Etos Kerja Islami, pembahasan yang beliau lakukan hanya pada petunjuk pekerjaan yang halal dan yang haram dalam syaria't Islam. Sedangkan Drs. H. Toto Tasmara. dengan judul Etos Kerja Pribadi Muslim pada tahun 1995, pembahasan yang beliau lakukan hanya pada setiap pekerjaan yang dilakukan oleh setiap muslim karena Allah, berarti ia sudah melakukan jihad fi sabilillah. Fahriyah, mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir Hadis angkatan 1999, dengan judul Etos Kerja menurut Alquran, pembahasan yang dilakukan olehnya hanya mengenai etos kerja ditengah kemajuan zaman yaitu bekerja yang dimulai dengan niat sebagai dasar kerja, tawakal dan sabar dalam bekerja, keselarasan antara kerja dan ibadah, ihsan dalam bekerja dan kerja keras. Sedangkan penulis membahas sisi lain yang tidak dikemukakan dalam buku-buku dan skripsi yang telah disebutkan tersebut, yaitu dengan memapakarkan etos kerja menurut Alquran, dengan menggunakan berbagai macam corak penafsiran. Serta mengemukakan beberapa pendapat, baik dari kalangan kaum muslimin maupun kafir yang erat kaitannya dengan masalah etos kerja, sehingga dapat ditemukan perbedaan yang mendasar antara etos kerja muslim dan kafir. Disamping itu penulis juga ingin mendeskripsikan secara khusus karakteristik etos kerja yang terdapat dalam ayat-ayat Alquran, dimana kerja tersebut dipandang sebagai sesuatu yang bernilai ibadah dalam kehidupan pribadi muslim. Permasalahan pokok ini selanjutnya difokuskan pada kajian terhadap ayat-ayat yang berkenaan tentang etos kerja menurut Alquran.
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), yang menjadikan bahan pustaka sebagai sumber data penelitian. Bahan utama yang dijadikan sumber data penelitian adalah ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang etos kerja menurut Alquran. Mengingat penelitian ini bertolak dari sebuah tema, kemudian dicarikan ayat-ayat yang terkait untuk dibahas, maka dalam kajian ‘ulûm Alquran cara kerja seperti ini disebut kajian yang menerapkan metode tafsir mawdhû’î (metode tafsir tematis) dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menetapkan topik etos kerja sebagai masalah yang akan dibahas.
b. Menghimpun dan menetapkan ayat-ayat yang menyangkut masalah tersebut.
c. Menyusun urutan ayat sesuai dengan masa turunnya, atau perincian masalahnya (jika ada).
d. Memahami korelasi (munâsabah) ayat-ayat tersebut dalam berbagai bentuknya, baik munâsabah dalam surahnya, antar ayat, atau dalam ayat.
e. Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok pembahasan.
f. Menyusun pembahasan dengan kerangka yang sempurna (out line).
g. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromikan antara yang ‘âm dan yang khâs, muthlaq dan muqayyad, atau yang kelihatannya bertentangan sehingga kesemuanya bertemu dalam satu pengertian yang utuh dan tidak kontradiktif, tanpa pemaksaan terhadap sebagian ayat kepada makna-makna yang sebenarnya tidak tepat (tidak terkandung dalam pengertian ayat).
h. Menyusun kesimpulan yang menggambarkan jawaban Alquran terhadap masalah etos kerja.

2. Data dan Sumber Data
a. Data
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah ayat-ayat Alquran yang menyangkut etos kerja menurut Alquran yaitu pada surah: Al-Jumu'ah ayat 9-10, At-Taubah ayat 105, Al-Isra ayat 12, An-Nahl ayat 14, Al-Qashash ayat 73, Al-Qasas ayat 77, An-Nisa ayat 32, Al-Mulk Ayat 15, Hud Ayat 61, An-Nahl ayat 93.
b. Sumber Data
1) Sumber data pokok adalah Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Tafsirnya, Yogyakarta, Universitas Indonesia, Juz I-30. Jilid I-X, tahun 1995. Kitab-kitab tafsir, diantaranya: tafsir Al-Misbah, tafsir Al-Maraghi, tafsir Ibnu kastsir, tafsir Fizilalil Qu'ran.
2) Data pelengkap seperti Kitab-kitab hadis, disamping buku-buku/karya ilmiah, majalah dan tulisan lainnya yang ada hubungannya dengan permasalahan yang diteliti.
3. Teknik Pengolahan dan Analisis data
Sesuae dengan jenis penelitian, maka tekhnik pengumpulan data yang penulis lakukan adalah merujuk terlebih dahulu pada kitab al-Mu'jam al-Mufahraz li alfaz al-Qur'an al-Karim karya Muhammad fuad Abdul baqi. Setelah ayat-ayat yang diperlukan diperoleh, penulis akan mencermati terjemah tafsirnya kemudian menyusun berdasarkan urutan surahnya dalam bantuan konversi turunnya surah yang akan dilampirkan. Selanjutnya dengan menganalisa ayat-ayat Alquran sesuae dengan informasi yang didapat dalam kitab al-Mu'jam al-Mufahraz li Alfaz al-Qur'an al-Karim tersebut. Kemudian diteruskan dengan menganalisa terhadap beberapa literatur yang berkaitan dengan pembahasan.
F. Sistematika Penulisan
Hasil penelitian ini dibahas dalam empat bab, dengan sistematika sebagai berikut:
Bab pertama atau pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, yang mengetengahkan beberapa masalah sehingga penulis termotivasi untuk melakukan penelitian terhadap etos kerja menurut Alquran kemudian dibuat rumusan masalah, definisi operasional, tujuan dan signifikansi penelitian, tinjauan pustaka, dan untuk menyelesaikan penelitian diketengahkan metode penelitian, serta diakhiri dengan sistematika penulisan.
Bab kedua yang membahas tentang pengertian etos kerja, dan deskripsi etos kerja dalam pandangan kaum muslimin dan kafir.
Bab ketiga berisi makna kerja menurut Alquran, ciri-ciri etos kerja menurut Alquran, hal-hal yang dilakukan dalam memperoleh etos kerja menurut Alquran, dan masalah-masalah yang menghambat etos kerja menurut Alquran.
Bab keempat atau penutup berisi simpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dan kemudian diakhiri dengan saran-saran.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Bimbingan Kerja Menurut Al-Quran, Banjarmasin, Antasari Press, 2005.
Hamzah, Ya'kub, Etos Kerja Islami, Jakarta, CV. Pedoman Jaya Ilmu, Cet. ke-1, 1992.
Khalid, 'Amru, Hatta Yugayyiru ma Bianfusihim, di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Nasruddin Atha dengan judul, Jika Anda Mau Berubah, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2005.
M. Tholhah, Hasan, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia, Jakarta, Lantabora Press, Cet. ke- 3, 2004.
Nurchalis, Madjid, Islam Doktrin Peradaban, Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina, Cet. ke-1, 1992.
Toto, Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, Cet. ke-2; Yogyakarta, PT. Dana Bhakti Wakaf, 1992.
Yusuf, Qardhawi, Kiat Islam Mengentaskan Kemiskinan, Jakarta, Gema Insani Press, Cet. ke-1, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar