Minggu, 04 Juli 2010

Ilmu Munasabah Alquran

Lahirnya pengetahuan tentang teori korelasi (Munasabah) ini berawal dari kenyataan bahwa sistematika Al-Qur’an sebagaimana terdapat dalam Mushaf Usmani sekarang tidak berdasarkan fakta kronologis turunnya. Itulah sebabnya terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama salaf tentang urutan surat di dalam Al-Qur’an. Pendapat pertama bahwa hal itu di dasarkan pada Taufiqi dari Nabi SAW. Golongan kedua berpendapat bahwa hal itu didasarkan atas Ijtihad para sahabat setelah mereka bersepakat dan memastikan bahwa suisunan ayat-ayat adalah taufiqi. Golongan ketiga berpendapat serupa dengan golongan pertama kecuali surat Al-Anfal (8) dan Bara’ah (9) yang di pandang bersifat ijtihadi.

A. Pengertian Munasabah
Kata munasabah secara etimologis, berarti kedekatan (al-muqarabah) dan kemiripan atau keserupaan. Ia juga berarti hubungan atau persesuaian.
Adapun menurut pengertian terminolologis, munasabah adalah ilmu al-quran yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara ayat atau surat dalam alquran secara keseluruhan dan latar belakang penempatan tartib ayat dan suratnya. munasabah dapat di definisikan sebagai berikut:
1. Munurut Az-Zarkasyi:
Munasabah adalah suatu hal yang dapat di pahami. Tatkala di hadapkan kepada akal, pasti akal akan menerimanaya.
2. Menurut Manna’ Al-Qaththan:
Munasabah adalah sisi keterikatan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat, atau antar ayat pada beberapa ayat, atau antar surat (di dalam Al-Qur’an).
3. Menurut Ibn Al;’Arabi:
Munasabah adalah keterikatan ayat-ayat Al-Qur’an sehingga seolah-olah merupakan suatu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung.
4. Menurut Al-Biqa’i
Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Qur’an, baik ayat dengan ayat, atau surat dengan surat.
Jadi, dalam konteks ‘Ulum Al-Qur’an, munasabah berarti menjelaskan korelasi antar ayat atau antar surat, baik korelasi itu bersifat umum atau khusus; rasional (‘aqli), persepsi (hassy), atau imajinatif (khayali); atau korelasi berupa sebab-akibat, illat dan ma’lul, perbandingan, dan perlawanan.
Untuk meneliti keserasian susunan ayat dan surat (munasabah) dalam Al-Qur’an di perlukan ketelitian dan pemikiran yang mendalam. As-Suyuthi menjelaskan beberapa langkah yang perlu di perhatikan untuk menemukan munasabah ini, Yaitu:
1. Memperhatikan tujuan pembahasan suatu surat yang menjadi obyek pencarian
2. memperhatikan uraian ayat-ayat yang sesuai dengan tujuan yang di bahas dalam surat
3. menentukan tingkatan uraian-uraian itu, apakah ada hubungannya atau tidak, dan
4. dalam mengambil kesimpulannya, hendaknya memperhatikan ugkapan-ungkapan bahasanya dengan benar dan tidak berlebihan.
B. Macam-Macam Munasabah
Ditinjau dari sifatnya, Munasabah terbagi dua bagian, yaitu.
1. Zhahir al-Irtibath ( persesuain nyata)
Munasabah ini terjadi karena bagian Al-Qur’an yang satu dengan yang lain tampak jelas dan kuat disebabkan kuatnya kaitan kalimat yang satu dengan yang lain, sehingga semua ayat itu tampak sebagai satu kesatuan yang utuh. Misalnya, kelanjutan ayat 1 dari surah al-Isra, yaitu ayat 2 yang menjelaskan diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa As. Keduanya sama-sama berbicara tentang utusan Allah SWT.
                                   
1. Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[847] agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
2. Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan kami jadikan Kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain aku,
2. Khafiy al-Irtibath (persesuaian tidak nyata)
Munasabah ini terjadi karena antara bagian-bagian al-quran tidak ada kesesuaian, sehingga tidak tampak adanya hubungan diantara keduanya, bahkan tampak masing-masing ayat atau surat berdiri sendiri, karena baik ayat-ayat yang dihubungkan dengan ayat lain maupun karena yang satu bertentangan dengan yang lain. Misalnya, hubungan antara ayat 189 dan ayat 190 dari surah al-Baqarah. Ayat 189 menjelaskan tentang bulan sabit, tanggal untuk tanda waktu dan untuk jadwal Ibadan haji. Sedangkan ayat 190 menjelaskan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat Islam.
        ••             •       •                   
189. Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya[116], akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
190. Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Munasabah Ditinjau dari segi materinya, terbagi dua bagian yaitu:
1. Munasabah antar ayat
Misalnya, munasabah antara ayat 2 dan 3 surah al-baqarah
                  
2. Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki[16] yang kami anugerahkan kepada mereka.
Ayat pertama diatas menjelaskan peranan al-qur’an dan hakikatnya bagi orang bertaqwa, sedangkan ayat kedua menjelaskan karakteristik dari orang-orang bertaqwa.
2. Munasabah antar Surat
Munasabah ini mencakup.
a. Hubungan antara permulaan surat dan penutupan surat dengan penutupan surat sebelumnya. Misalnya permulaan surat al-An’am memiliki relevansi dengan penutupan surat al-Maidah dalam hal antara hamba dan balasan…
        
Segala puji bagi Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.
            
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
b. Hubungan antara dua surat dalam soal materinya. Misalnya munasabah antara isi kandungan surat al-Baqarah sama dengan surat al-fatihah.
c. Hubungan antara permulaan dan akhir surat. Misalnya antara permulaan surat Shad dan penutupnya yang menceritakan kisah orang kafir.
d. Hubungan antara kata dan sistematika ayat
dalam hal ini Muhammad bin Shalih al-Usaimin menjelaskan tentang susunan kata-kata yang memiliki munasabah.
1). Para ulama telah mewajibkan menempatkan setiap kata seperti susunan yang ada dalam masing-masing ayat. Misalnya kalimat    tidak boleh dibaca 
2). Susunannya yang tidak boleh di balik.
3). Khusus mengenai surat bisa saja tidak diurut dalam membacanya. Misalnya dalam shalat, pada rakaat pertama membaca surat al-Kafirun, sedangkan pada rakaat kedua membaca surat at-Takasur.
Dalam Al-Qur’an sekurang-kurangnya terdapat tujuh macam munasabah, yaitu berikut ini.
1. Munasabah antar surat dengan surat sebelumnya
As-Suyuthi menyimpulkan bahwa munasabah antar satu surat dengan surat sebelumnya berfungsi menerangkan atau menyempurnakan ungkapan pada surat sebelumnya. Sebagai contoh, dalam surat Al-Fatihah (1) Ayat 1 terdapat uangkapan Alhamdulillah. Ungkapan ini berkorelasi dengan surat Al-Baqarah (2) ayat 152 dan 186 sebagai berikut.
      
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah: 152)
                   
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186).
Ungkapan rabb-‘alamin dalam surah Al-fatihah (1) berkorelasi dengan firman Allah berikut.
 ••                         •          
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu Mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22)
Dalam surat Al-Baqarah (2) ditegaskan ungkapan dzalik al-kitab la raiba fih. “ungkapan ini berkolerasi dengan ayat berikut.
•           
“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan Sebenarnya; membenarkan Kitab yang Telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.” (Q.S. Ali ‘Imran: 3)
2. Munasabah antara nama surat dan tujuan turunnya
Setiap surat mempunyai tema pembicaraan yang menonjol, dan itu tercermin pada namanya masing-masing, seperti surat Al-Baqarah (2), dan surat Yusuf (18), surat An-Naml (27), dan surat Al-Jinn (72).
Umpanya dapat dilihat pada firman Allah berikut.
    •                               •                          •      •          •             •                       
67. Dan (ingatlah), ketika Musa Berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina." mereka berkata: "Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?"[62] Musa menjawab: "Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil".
68. Mereka menjawab: " mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar dia menerangkan kepada Kami; sapi betina apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".
69. Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar dia menerangkan kepada kami apa warnanya". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya."
70. Mereka berkata: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, Karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan Sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)."
71. Musa berkata: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." mereka berkata: "Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya". Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu[63].
Cerita tentang lembu betina dalam surat Al-Baqarah (2) di atas mengandung inti pembicaraan tentang kekuasaan Tuhan yang membangkitkan orang mati. Dengan perkataan lai, tujuan surat ini adalah menyangkut kekuasaan Tuhan dan keimanan pada hari kemudian.
3. Munasabah Antar bagian surat
Munasabah antar bagian surat ayat sering berbentuk pola munasabah at-tadhadat (perlawanan) seperti terlihat dalam surat:
                                      
4. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian dia bersemayam di atas ´arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hadid: 4).
Diantara kata yaliju (masuk) dan kata yakhruju (keluar), serta kata yanzilu (turun) dan kata ya’ruju (naik) terdapat korelasi perlawanan. Contoh lainnya adalah kata al-‘adzab dan ar-rahmah dan janji baik setelah ancaman. Munasabah seperti ini dapat di jumpai dalam surat Al-Baqarah (2), An-Nisa (4), dan surat Al-Maidah (5).
4. Munasabah antara ayat yang letaknya berdampingan
Munasabah antara ayat yang letaknya berdampingan sering terlihat dengan jelas, tetapi sering pula tidak jelas. Munasabah antara ayat yang terlihat dengan jelas umumnya menggunakan pola ta’kid (penguat), tafsir (penjelas), i’tiradh (bantahan), dan tasydid (penegasan).
Munasabah antara ayat yang menggunakan pola ta’kid, yaitu apabila salah satu ayat atau bagian ayat memperkuat makna ayat atau bagian ayat yang terletak di sampingnya. Contoh firman Allah:
         
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].
2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam[3].
Ungkapan rabb al’amin pada ayat kedua memperkuat kata ar-rahman dan ar-rahim pada ayat pertama.
Munasabah antar ayat menggunakan pola tafsir apabila makna satu ayat atau bagian ayat tertentu ditafsirkan oleh ayat atau bagian ayat di sampingnya. Contohnya, firman Allah berikut.
                  
2. Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12],
3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat[15], dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka.” (Q.S. Al-Baqarah: 2-3).
Kata Muttaqin pada ayat kedua di tafsirkan maknanya oleh ayat ketiga. Dengan demikian, orang yang bertaqwa adalah orang yang mengimani hal-hal gaib, mengerjakan shalat, dan seterusnya.
Munasabah antara ayat menggunakan pola I’tiradh apabila terdapat satu kalimat atau lebih yang tidak ada kedudukannya dalam I’rab (struktur kalimat), baik di pertengahan kalimat atau diantara dua kalimat yang berhubungan dengan maknanya.
Contohnya firman allah berikut
      •  
57. Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki).
Kata subhanahu merupakan bentuk I’tiradh dari dua ayat yang mengantarnya. Kata itu merupakan bantahan bagi klaim orang-orang kafir yang menetapkan anak perempuan bagi Allah.
5. Munasabah antara suatu kelompok ayat dengan kelompok ayat disampingnya.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 1 sampai ayat 20, umpamanya Allah memulai penjelasannya tentang kebenaran dan fungsi Al-quran bagi orang-orang bertaqwa.Dalam kelompok ayat berikutnya dibicarakan tentang tiga kelompok manusia dan sifat mereka yang berbeda-beda, yaitu mukmin, kafir, dan munafik
6. Munasabah antara Fashilah (pemisah) dan isi ayat
Munasabah ini mengandung tujuan tertentu. Diantaranya menguatkan (tamkin) makna yang yang terkandung dalam ayat. Misalnya.
•           
80. Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (Tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka Telah berpaling membelakang.
Kalimat idza wallau mudbirin merupakan penjelasan tambahan terhadap makna orang tuli.
7. Munasabah antara awal surat dengan akhir surat yang sama.
Contoh munasabah ini terdapat dalam surat Al-Qashas. Munasabah ini terletak dari sisi kesamaan kondisi yang dialami oleh kedua Nabi yaitu Nabi Musa As dan Nabi Mumammad Saw.
8. Munasabah antara penutup suatu surat dengan awal surat berikutnya
Jika memperhatikan setiap pembukaan surat, kita akan menjumpai munasabah dengan akhir surat sebelumnya, sekalipun tidak mudah untuk mencarinya. Misalnya. Permulaan surat Al-Hadid dimulai dengan tasbih.
          
“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Ayat ini bermunasabah dengan akhir surat sebelumnya, Al-Waqiah yang memerintahkan bertasbih. Ayat 96.
    
“ Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha besar.”
C. Sejarah Perkembangan Ilmu Munasabah
Abu Bakral Naysaburi (w. 324 H) di kenala sebagai orang yang pertama kali mengangkat persoalan munasabah ini di Bagdad. Namun, karya besarnya dalam tafsir sulit untuk dijumpai. Perhatiannya terhadap munasabah tampak ketika ia mempertanyakan alasan dan rahasia penempatan surat dan ayat secara kritis terhadap ulama-ulama di Bagdad. Atas prakarsa beliau dalam bidang ini, maka ia dinobatkan sebagai bapak peletak ilmu munasabah.
Dalam perkembangan selanjutnya munasabah meningkat menjadi salah satu cabang dari ulum Alquran. Kendati pada masa-masa sebelumnya para ulama masih secara parsial membahas munasabah ini, tetapi ulama yang berikutnya menyusun secara spesifik. Kitab al-Burhan fi Munasabah Tartib Al-quran karya Ahmad ibn Ibrahim al-Andalusi (W. 807 H) dipandang sebagai kitab yang secara khusus membahas munasabah. Sedangkan penulis-penulis lain yang berikutnya adalah Burhan al-Din al Biqa’i yang menulis kitab Nazm al-Durar fi Tanasub wa al-Suwar. Penulis dimasa berikutnya adalah al-Zarkasyi, ia membahas munasabah dalam al-Burhan berjudul Ma’rifah al-Munasabah Bayn al ayat, tokoh sebelunnya al-Sayuthi, membahas munasabah dalam al-itqan berjudul Fi Munasabah al-ayat, Manna al-Qaththan dan Shubhi Shalih membahas munasabah dalam Asbabun Nuzul. Muhammad Al-Ghumariy dalam kitabnya Jawahir al-Bayan fi Tanasub Suwar Al-quran.
D. Kedudukan dan Urgensi Munasabah Dalam Penafsiran Alquran
Para ulama berbeda pendapat, ada yang pro dan kontra. Diantara ulama yang mendukung munasabah ini adalah al-Buqa’iy, sebagai dikutip Mushthafa Muslim, mengatakan bahwa ilmu munasabah sangat penting, ia merupakan ilmu agung. Al-Zarkasyi ilmu munasabah menjadikan bagian-bagian kalam saling menguatkan antara satu dengan lainnya. Menurut Al-Razy, sangat bernilai tinggi selama dapat diterima akal. Sedangkan tokoh yang menentang keberadaan Munasabah adalah Mahmud Syaltut dan al-Syathibi yang menganggap percuma usaha mencari hubungan apa yang ada diantara ayat dan surat dalam Alquran.
Ayat-ayat dan surat-surat dalam Alquran tidak dapat di pisah-pisahkan, karena itu diperlukan pengetahuan tentang hubungan di antara ayat dan surat tersebut. ‘Izzud Al-Din ‘Abd al-Salam mengatakan bahwa ketika menghubungkan antara kalimat yang satu dengan kalimat lainnya di syaratkan tepat dengan hal-hal yang benar-benar berkaitan, baik di awal maupun di akhir.
Penguasaan seseorang dalam munasabah akan mengetahui mutu dan tingkat kebalagahan alquran dan konteks kalimatnya antara yang satu dengan yang lain. Bagaimana tidak, korelasi antar ayat akan menjadikan keutuhan yang indah dalam tata bahasa Alquran, yang jika di penggal keindahan tersebut akan hilang. Ini bukti bahwa Alquran betul-betul mukjizat dari Allah bukan kreasi Muhammad. Sebagai dikatakan al-Razi bahwa kebanyakan keindahan-keindahan Alquran terletak pada susunan dan hubungannya, sedangkan susunan kalimat yang paling indah (baligh) adalah yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Disini jelas bahwa pengetahuan tentang munasabah dapat memudahkan orang dalam memahami makna ayat atau surat Alquran secara utuh. Adanya penafsiran yang sepenggal-sepenggal terhadap ayat-ayat Al-quran akan mengakibatkan penyimpangan dan kekeliruan dalam penafsiran.

KESIMPULAN
Munasabah merupakan sebuah ilmu yang digunakan untuk memahami alasan-alasan penertiban bagian-bagian dari Al-quran. Dengan demikian ilmu ini menjelaskan aspek-aspek hubungan antara beberapa ayat atau surat al-quran baik sebelum maupun sesudahnya.
Ditinjau dari sifatnya, Munasabah terbagi dua bagian, yaitu.
1. Zhahir al-Irtibath ( persesuai nyata)
2. Khafiy al-Irtibath (persesuaian tidak nyata)
Munasabah Ditinjau dari segi materinya, terbagi dua bagian yaitu:
1. Munasabah antar ayat
2. Munasabah antar Surat
Abu Bakral Naysaburi (w. 324 H) di kenala sebagai orang yang pertama kali mengangkat persoalan munasabah ini di Bagdad. Namun, karya besarnya dalam tafsir sulit uintuk dijumpai. Perhatiannya terhadap munasabah tampak ketika ia mempertanyakan alasan dan rahasia penempatan surat dan ayat secara iritis terhadap ulama-ulama di Bagdad. Atas prakarsa beliau dalam bidang ini, maka ia dinobatkan sebagai bapak peletak ilmu munasabah.
Penguasaan seseorang dalam munasabah akan mengetahui mutu dan tingkat kebalagahan alquran dan konteks kalimatnya antara yang satu dengan yang lain. Bagaimana tidak, korelasi antar ayat akan menjadikan keutuhan yang indah dalam tata bahasa Alquran, yang jika di penggal keindahan tersebut akan hilang. Ini bukti bahwa Alquran betul-betul mukjizat dari Allah bukan kreasi Muhammad.

DAFTAR PUSTAKA
Abd Al-‘Azhim Az-Zarqani, Muhammad. Manhil Al-‘Irfan fi ‘Ulum Al-Qur’an, Dar Al-Fikr, Beirut, t.t., Jilid I.
Ad-Din Muhammad Badr bin Abdullah Az-Zarkasy Al-Burhan. Fi Ulum Al-Quran Jilid I.
Al-Qaththan, Manna’, Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, Mansyurat Al-‘ashr Al-Hadis, ttp., 1973.
As-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an, Dar Al-Fikri, Beirut t.t., Jilid I.
Muhammad bin ‘Alwi Al-Maliki Al-Husni, Mutiara Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, ter. Rosehan Anwar, Pustaka Setia, Bandung, 1999.
Supiani dan M. Karman. “Ulumul Quran” Bandung: Pustaka Islami, Cet. I, 2002.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar